Kamis, 30 Mei 2013

BSD akan Bangun Tol ke Balaraja Senilai Rp6 T

Headline

 PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) akan membangun satu ruas tol Serpong-Balaraja, dengan nilai investasi sebesar Rp6 triliun.

Ruas tol tersebut, nantinya sepanjang 30 kilo meter dan akan dikerjakan secara bertahap. Proyek ini, juga menggandeng perusahaan lain agar lebih mudah dan cepat.

"Tapi Bumi Serpong Damai sebagai Pemrakarsa rencana jalan ton tersebut," kata Direktur dan Corporate Secretary BSDE, Hermawan Wijaya seusai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Kamis (30/5/2013).

Menurut Hermawan, perseroan saat ini sudah memulai pembangunan tahap pertama untuk pembebasan lahan sebesar 60% dari rencana total pembangunan, dengan nilai investasi sekitar Rp2 triliun. "Ini masih dalam tahap tander, ditargetkan 2016 sudah mulai beroperasi," kata dia.

Lebih lanjut dia mengatakan, mengenai dana pembangunan ruas tol ini diperoleh dari kas internal, pinjaman perbankan, dan obligasi (surat utang). Selain itu, perseroan akan menerbitkan saham baru dengan skema Non HMETD, sebagai salah satu cara dalam memperoleh dana.

Sedangkan, mengenai belanja modal (capex) yang sudah terserap hingga kuartal pertama tahun ini, yakni sebesar Rp1,2 triliun atau 40% dari total keseluruhan sebesar Rp3 triliun. "Sudah terpakai Rp1,2 triliun, sebagian besar digunakan untuk lahan baru," ucap Hermawan. [hid]

Menanti Data China, Rupiah Konsolidasi

Headline

Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (31/5/2013) diprediksi konsolidasi-melemah. Pasar menanti rilis data manufaktur China.

Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, untuk Jumat ini rupiah berpeluang memasuki fase konsolidasi. Sebab, pasar menunggu serangkaian data penting yang dirilis dari China hari Sabtu (1/6/2013) dan dari makro ekonomi Indonesia awal pekan depan.

Pada Sabtu (1/6/2013), China akan merilis data manufaktur PMI versi pemerintah yang diperkirakan turun ke 50,1 dari sebelumnya 50,6. "Karena itu, rupiah akan terkonsolidasi terlebih dahulu dengan kecenderungan melemah Jumat ini dalam kisaran sempit antara 9.850 hingga 9.800 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM.

Lebih jauh Christian mengatakan, jika data tersebut meleset ke bawah perkiraan, bisa memicu risk aversion (aksi hindar risiko) para investor dari aset-aset berisiko termasuk rupiah ke aset-aset safe haven termasuk dolar AS. "Sebab, manufaktur China versi pemerintah itu bisa mengonfirmasi kejatuhan manufaktur yang dirilis sebelumnya oleh HSBC yang menunjukkan kontraksi," ungkap dia.

Selain itu, konsolidasinya rupiah juga karena penantian pasar atas data-data makro ekonomi Indonesia pada Senin (3/6/2012) yang akan dirilis cukup banyak seperti neraca perdagangan, pertumbuhan ekspor-impor, dan inflasi. "Dengan wacana penaikan harga BBM bersubsidi, inflasi yang akan dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS) awal pekan depan, tidak relevan lagi," tuturnya.

Sementara itu, lanjut dia, semalam sudah dirilis data Produk Domestik Bruto (PDB) AS untuk estimasi awal kuartal I-2013. Angkanya diprediksi mengalami revisi naik ke 2,7% hingga 2,8% dari estimasi sebelumnya 2,5%. "Ini akan berdampak positif bagi dolar AS dan jadi tekanan negatif bagi rupiah," ucapnya.

Sebab, data ekonomi AS itu masih menunjukkan pemulihan sehingga rupiah akan konsolidasi. Pada kenyatannya, PDB AS dirilis sedikit lebih rendah dari estimasi menjadi 2,4% untuk kuartal I-2013. "Karena itu, rupiah lebih terpengaruh oleh data manufaktur China," imbuhnya.

Asal tahu saja, kurs rupiah terhadap dolar AS  di pasar spot valas antar bank Jakarta, Kamis (30/5/2013) ditutup stagnan di level 9.800/9.810 per dolar AS.

Inilah Saham Pilihan Jumat (31/5/2013)

Headline

Pada perdagangan Jumat (31/5/2013) investor dapatr mencermati saham BEST, saham INTP dan saham KLBF dengan indeks yang cenderung bergerak mixed.

Untuk saham INTP tidak mampu kembali ke atas support MA50nya. Hal ini mengindikasikan adanya peluang penurunan kembali pada saham ini dengan target ke kisaran 22700. MACD yang menurun menunjukkan saham ini bergerak negatif. Saham INTP disarankan untuk jual. Demikian mengutip hasil riset pengamat pasar modal, Jeremiah Rio Rizaldi, Rabu (30/5/2013).

Untuk saham BEST gagal menguat lagi ke atas support MA50-nya. Diiringi MACD yang terus menurun, saham ini cenderung akan melanjutkan penurunannnya terutama jika tidak mampu bertahan di atas support 910.

Jika 910 jebol, BEST berpeluang melemah menuju MA100 di kisaran 850 dengan minor target 890. Saham ini baru mampu menguat signifikan jika mampu kembali ke atas 990. Saham BEST disarankan untuk sell on strength dan strong sell jika menembus 910.

Untuk saham KLBF yang bertahan di atas support MA20-nya semasa konsolidasi. Jika mampu menguat dan menembus all time high di 1560, KLBF berpeluang melanjutkan tren naiknya menuju 1710 dengan minor target 1590. MACD yang mendatar menunjukkan saham ini berada di akhir konsolidasinya. Saham ini disarankan beli jika menembus 1560 dengan stoploss di 1450.

Cermati Bursa Global, Mainkan Sebelas Saham!

Headline

Secara teknikal, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan Jumat (31/5/2013) ini. Tapi, jika bursa global positif, indeks pun bisa menghijau. Mainkan sebelas saham! Apa saja?
Pada perdagangan Kamis (30/5/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup melemah 71,05 poin (1,37%) ke level 5.129,647. Intaraday terendah 5.111,154 dan tertinggi 5.178,638. Investor asing mencatatkan net sell dalam jumlah yang signifikan hingga Rp1,43 triliun. Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan net sell dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan net buy.
Reza Priyambada, Kepala Riset Trust Securities mengatakan, kembali variatifnya bursa saham Asia, apalagi dengan pelemahan tajam Hang Seng Index (HSI) yang terimbas pelemahan bursa saham AS dan Eropa sebelumnya membuat laju kenaikan IHSG terhambat. “IHSG pun terjungkal dan mengalami koreksi,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (30/5/2013).
Belum lagi, kata dia, sentimen dari pelemahan rupiah yang membuat pelaku pasar hilang mood untuk melakukan transaksi. “Asing pun kian agresif jualan sehingga IHSG terperosok kian dalam,” papar dia.
Kali ini, lanjut dia, net buy asing terjadi pada saham-saham second liner sehingga tidak banyak memberikan dampak signifikan pada laju IHSG. “Pembukaan pasar Eropa yang negatif tidak meberikan imbas yang cukup baik bagi IHSG sehingga tetap mendekam dalam teritori negatif hingga akhir sesi,” tandas dia.
Lebih jauh Reza memperkirakan, pada perdagangan Jumat (31/5/2013), IHSG berada pada support 5.100-5.120 dan resistance 5.185-5.195. “Indeks berpola menyerupai evening star mendekati middle bollinger bands (MBB),” ujarnya.
Moving Average Convergence-Divergence (MACD) masih mendatar dengan histogram positif yang lebih pendek. The Relative Strength Index (RSI), William's %R, dan Stochastic kembali menjauhi area overbought. “Setelah melewati target resistance kami 5.195-5.203, kembali IHSG bergerak di bawah target support kami 5.135-5.165,” tuturnya.
Meski secara teknikal mensinyalkan adanya koreksi lanjutan, Reza menggarisbawahi, bisa saja indeks berbalik arah positif bila laju bursa saham global bisa kembali menghijau. “Untuk itu, tetap mewaspadai dan mencermati laju bursa saham global,” tandas dia.
Reza menyodorkan sebelas saham sebagai bahan pertimbangan para pemodal. Saham-saham tersebut adalah PT Ciputra Surya (CTRS), trading buy dengan support Rp3.475-3.525, resistance Rp3.750-3.775, dan target harga Rp3.700. “Hammer. Stochastic upreversal,” timpal dia.
PT Semen Indonesia (SMGR), buy on weakness dengan support Rp17.950-18.150, resistance Rp18.350-18.450, dan target harga Rp18.400. “Long legged doji di area oversold,” kata Reza.
PT Japfa Comfeed Indonesia (JPFA), trading buy dengan support Rp1.920-1.950, resistance Rp2.025-2.050, dan target harga Rp2.025. “Inverted hammer dekati MBB,” ungkap dia.
PT Ramayana Lestari Sentosa (RALS), buy on weakness dengan support Rp1.450-1.490 resistance Rp1.530-1.550, dan target harga Rp1.530. “White marubozu di atas MBB,” imbuhnya.
Saham-saham lainnya, PT Surya Semesta Internusa (SSIA) dalam kisaran Rp1.520-1.650, trading buy selama di atas Rp1.600; PT Bumi Serpong Damai (BSDE) dalam kisaran Rp1.860-1.950, trading sell jika Rp1.890 gagal bertahan;
PT Bumi Resources Minerals (BRMS) dalam kisaran Rp340-400, trading buy selama di atas Rp345, PT Pembangunan Perumahan (PTPP) dalam kisaran Rp1.570-1.730, trading buy selama di atas Rp1.650;
PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) dalam kisaran Rp1.860-2.075, trading sell jika Rp2.025 gagal bertahan; PT Multipolar Corporation (MLPL) dalam kisaran Rp720-820, trading buy selama di atas Rp780; dan PT Global Land Development (KPIG) dalam kisaran Rp1.400-1.480, trading buy selama di atas Rp1.420.

Harga Komoditas Lesu, IHSG Variatif-Turun

 Headline

Laju IHSG Jumat (31/5/2013) diprediksi variatif-melemah dalam support 5.104 dan resistance 5.155. Pelemahan harga komoditas jadi pemicunya setelah IMF pangkas PDB China.
Pada perdagangan Kamis (30/5/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup melemah 71,05 poin (1,37%) ke level 5.129,647. Intaraday terendah 5.111,154 dan tertinggi 5.178,638.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan net sell dalam jumlah yang signifikan hingga Rp1,43 triliun dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan net buy.
Purwoko Sartono, Research Analyst dari PT Panin Sekuritas mengatakan, aksi jual investor asing terus menekan IHSG pada perdagangan kemarin. “Kami melihat adanya potensi penundaan pengumuman penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi membawa sentimen negatif bagi indeks,” katanya kepadaINILAH.COM, di Jakarta, Kamis (30/5/2013).
Selain itu, lanjut dia, dari dalam negeri, sentimen negatif lain juga datang dari AS. “Sentimen itu seputar wacana pengurangan stimulus,” tandas dia.
Sementara itu, International Monetary Fund (IMF) menurunkan target pertumbuhan ekonomi China tahun ini 8% dan 2014 8,2% masing-masing menjadi 7,75%.” Hal ini kembali menekan harga komoditas,” tuturnya.
Keluarnya investor asing dalam beberapa hari terakhir tampaknya juga turut membawa sentimen terhadap melemahnya nilai tukar rupiah.
Di atas semua itu, Purwoko memproyeksikan, IHSG akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah. IHSG tampak ditutup di bawah moving average 5 hari nya. “Kisaran support-resistance 5.104-5.155

Kamis, 23 Mei 2013

Inilah Agenda RUPS Tahunan Bumi Resources

Headline

 PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akan meminta persetujuan pemegang saham untuk pengesahan neraca dan perhitungan laba/rugi untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2012.

Permintaan tersebut akan dilakukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan. Rencananya RUPS Tahunan akan dilakukan pada Jumat (28/6/2013). Namun perseroan belum mengumumkan rencana tempat yang akan digunakan untuk acara tersebut.

Demikian mengutip keterbukaan informasi di BEI, Kamis (23/5/2013). Sementara agenda lain dalam RUPS Tahunan tersebut adalah permintaan persetujuan terhadap pertanggungjawaban direksi selama tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2012. Perseroan juga meminta persetujuan rencana penggunaan laba/rugi perseroan untuk tahun buku 2012.

Agenda lainnya seperti rencana penunjukkan Akuntan Publik untuk mengaudit laporan keuangan untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2013. Perseroan juga merencanakan perubahan susunan pengurus.

Pada tahun 2012, BUMI alami kerugian di US$666 juta akibat transaksi valuta asing dan derivatif.

Asing Beli di Harga Bawah, Pilih Sebelas Saham!


Headline

 Laju IHSG Jumat (24/5/2013) diprediksi konsolidasi. Pelaku pasar tak perlu panik karena investor asing mengakumulasi saham di harga bawah. Sebelas saham jadi pilihan. Apa saja?
Pada perdagangan Kamis (23/5/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup melemah 86,6 poin (1,66%) ke posisi 5.121,403. Intraday terendah 5.089,929 dan tertinggi 5.209,139. Volume perdagangan turun dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan net sell dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan net buy.
Reza Priyambada, Kepala Riset Trust Securities mengatakan, banyaknya sentimen negatif membuat pelaku pasar memanfaatkannya untuk profit taking. “Apalagi dengan posisi IHSG yang memang sudah overbought, sangat rentan untuk terkoreksi apabila ada sedikit saja kabar negatif,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (23/5/2013).
Masalahnya ialah sentimen kali ini memang cukup banyak menghadang laju penguatan IHSG. “Dimulai dari penutupan bursa saham AS setelah merespons negatif hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC), naiknya yield obligasi Jepang yang berimbas pada apresiasi yen, dan rilis awal indeks manufaktur China yang terkontraksi,” ujarnya.
Lebih jauh Reza memperkirakan, pada perdagangan Jumat (24/5/2013) IHSG berada pada support 5.065-5.108 dan resistance 5.207-5.216. Indeks berpola menyerupai three inside down di bawah upper bollinger bands (UBB),” ujarnya.
Moving Average Convergence-Divergence (MACD) cenderung turun dengan histogram positif yang lebih pendek. The Relative Strength Index (RSI), William's %R, dan Stochastic cenderung turun setelah gagal mencoba dekati area overbought.
Setelah berhasil melewati target resistance, kemarin IHSG juga berhasil melewati target support 5.145. “Keberhasilan tersebut justru membawa IHSG berada di bawah area overbought sehingga memudahkan untuk bergerak konsolidasi berikutnya,” tuturnya.
Karena itu, dia mengharapkan, pelemahan indeks bisa terbatas karena ini hanya berupa imbas dari luar. “Lagipula, meski secara total tercatat net sell namun, asing juga masih mengakumulasi di harga bawah sejumlah saham sehingga tidak perlu panik berlebihan,” ucap dia.
Di atas semua itu, Reza merekomendasikan 11 saham sebagai bahan pertimbangan para pemodal. Saham-saham tersebut adalah PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), buy on weakness dengan support Rp9.000-9.150, resistance Rp9.400-9.450, dan target harga Rp9.400. “Long doji star. RSI mencoba upreversal,” ungkap dia.
PT Astra Otoparts (AUTO), trading buy dengan support Rp3.425-3.475, resistance Rp3.550-3.575. “Hammer dekati MBB. RSI upreversal,” ucapnya.
PT Wijaya Karya (WIKA), buy on weakness, dengan support Rp2.425-2.500, resistance Rp2.650-2.650-2.675, dan target harga Rp2.650. “Tweezers top di middle bollinger band(MBB),” ungkap dia.
PT Unilever Indonesia (UNVR), trading buy dengan support Rp30.250-30.550, resistance Rp31.850-32.150, dan target harga Rp31.850. “Bullish engulfing di bawah UBB,” kata Reza.
Saham-saham lainnya, PT Multipolar Corporation (MLPL) dalam kisaran Rp650-750, trading sell jika Rp690 gagal bertahan; PT Express Transindo Utama (TAXI) dalam kisaran Rp1.250-1.320, buy on weakness apabila di bawah Rp1.270;
PT Lippo Karawaci (LPKR) dalam kisaran Rp1.500-1.590, trading sell jika Rp1.530 gagal bertahan; PT AKR Corporindo (AKRA) dalam kisaran Rp5.200-5.650, buy on weakness apabila di bawah Rp5.250;
PT Summarecon Agung (SMRA) dalam kisaran Rp2.700-2.925, trading sell jika Rp2.750 gagal bertahan; PT Hanson International (MYRX) dalam kisaran Rp500-580, trading buy selama di atas Rp530; dan PT Ramayana Lestari Sentosa (RALS) dalam kisaran Rp1.400-1.520, buy on weakness apabilan turun ke bawah Rp1.420.

Pilih Saham yang Masih Akan Tumbuh Kuat


Headline

Laju IHSG Jumat (24/5/2013) diprediksi melanjutkan pelemahan seiring kurang kondusifnya bursa regional. Pilih saham dari sektor yang ekspektasi pertumbuhannya masih kuat.
Thendra Crisnanda, analis BNI Securities mengatakan, selain faktor regional pasar juga akan merefleksikan ekspektasi tingginya inflasi seiring faktor penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Apalagi, untuk beberapa bulan ke depan, inflasi akan terus melambung seiring faktor musim masuk sekolah, momentum puasa dan lebaran.
Tapi, semua itu hanya akan memicu aksi profit taking yang dinilainya masih wajar. Apalagi, IHSG yang sejak awal tahun sudah naik lebih dari 20% dan terjadi secara cepat. “Saham-saham pilihan masih dari sektor-sektor saham yang memiliki ekspektasi pertumbuhan yang kuat yakni consumer goods, konstruksi, properti, dan sektor perdagangan,” katanya kepadaINILAH.COM.
Pada perdagangan Kamis (23/5/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup melemah 86,6 poin (1,66%) ke posisi 5.121,403. Intraday terendah 5.089,929 dan tertinggi 5.209,139. Volume perdagangan turun dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan net sell dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan net buy. Berikut ini wawancara lengkapnya:
IHSG melemah 8,6% menjauhi level psikologsi 5.200. Bagaimana Anda melihat arahnya Jumat (24/5/2013)?
Untuk Jumat ini kita melihat akan terjadinya pelemahan lanjutan IHSG. Sebab, kalau kita lihat indeks-indeks regional lainnya masih menunjukkan pelemahan yang signifikan. Indeks Nikkei melemah hingga 7,3%.
Jika ditotal dari level terkuatnya Kamis (23/5/2013), pelemahan Nikkei mencapai 11%. Sebab, di awal perdagangan, Nikkei sempat mencatatkan kenaikan hingga 4%. Karena itu, besar peluang bagi IHSG untuk melanjutkan penurunan Jumat ini.
Level support dan resistance-nya?
Jumat ini saya perkirakan indeks akan bergerak pada kisaran support 5.092 hingga resistance 5.150.
Selain faktor indeks regional, apalagi yang jadi tekanan negatif bagi indeks?
Selain itu, pasar juga akan mulai terpengaruh oleh inflasi seiring rencana penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Sebab, untuk beberapa bulan mendatang, inflasi akan terus melambung. Tidak hanya karena faktor harga BBM, tapi juga faktor musim masuk sekolah, momentum puasa dan lebaran.
Bukankah penaikan BBM bersubsidi sangat sehat untuk APBN dan seharusnya direspons positif oleh pelaku pasar?
Memang, penaikan BBM berefek positif, tapi untuk jangka menengah-panjang. Untuk jangka pendek, efek psikologis pasar tetap saja bisa negatif. Karena pasar akan merefleksikan tingginya inflasi.
Sebab, jika inflasi tinggi dan tidak bisa terjaga, nilai tukar rupiah juga akan tetekan negatif. Rupiah bisa melemah ke atas 10.000 per dolar AS. Karena itu, untuk jangka pendek, penaikan harga BBM tetap saja negatif.
Kalau begitu, seberapa besar tekanan profit taking?
Semua itu sebenarnya hanya memicu profit taking yang wajar bagi IHSG. Apalagi, dengan IHSG yang sejak awal tahun sudah naik lebih dari 20%. Kondisi ini mengindikasikan potensi koreksi indeks merupakan hal yang wajar karena kenaikan indeks terlalu cepat.
Saham-saham pilihan Anda?
Saham-saham pilihan masih dari sektor-sektor saham yang memiliki ekspektasi pertumbuhan yang kuat yakni consumer goods, konstruksi, properti, dan sektor perdagangan.
Bagaimana strategi trading pada keempat sektor saham tersebut?
Untuk saat ini, lebih baik trading buy pada beberapa saham dari sektor-sektor itu.

Pasar Tiarap Respons Sentimen AS, China, & Jepang


 Headline

IHSG dan rupiah kompak melemah. Pasar tergerus sentimen dari stimulus bank sentral AS The Fed, kontraksi manufaktur China, dan kenaikan yield obligasi Jepang.
Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, pelemahan rupiah sebagai respons pasar atas sentimen yang datang dari AS. Memang, kata dia, sempat terjadi profit taking terhadap dolar AS setelah adanya testimoni dari Gubernur The Fed Ben Bernanke di hadapan Kongres AS yang bersikap netral.
Bernanke, kata dia, memberikan sinyal bahwa stimulus masih perlu diperpanjang. Sebab, angka pengangguran AS masih dianggap terlalu tinggi. "Tapi, di sisi yang lain, Bernanke juga menyatakan kesiapannya untuk mengurangi program pembelian obligasi meskipun dengan angka yang cukup kecil dari nilai US$85 miliar per bulan," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (23/5/2013).
Kurs rupiah  terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Kamis (23/5/2013) ditutup melemah 6 poin (0,06%) ke posisi 9.769/9.774 dari posisi kemarin 9.763/9.768.
Karena itu, dia menegaskan, sentimen dari Bernanke sebenarnya cukup variatif. Sebab menurut Bernanke, keputusan untuk mereduksi pembelian obligasi, hanya bisa diputuskan pada salah satu rapat moneter The Fed berikutnya. "Itupun tergantung jika ekonomi AS mampu menunjukkan momentum yang positif. Dari sisi ini, Bernanke cukup ngambang sehingga sentimennya netral," ujarnya.
Hanya saja, lanjut dia, rally dolar AS kembali terpicu setelah hasil notula Federal Open Market Committe (FOMC) menunjukkan bahwa pencabutan stimulus bisa dilakukan paling cepat Juni 2013. "Karena itu, sepanjang perdagangan rupiah mencapai level terlemah 9.770 dengan level terkuat 9.769 dari posisi pembukaan di level terlemahnya itu terhadap dolar AS,” tuturnya.
Apalagi, kata dia, rupiah juga mendapat tekanan negatif dari data manufaktur China yang menunjukkan, negeri tirai bambu itu berpotensi mengalami perlambatan ekonomi. Sebab, data manufaktur mengalami penurunan ke teritori kontraksi jadi 49,6 dari publikasi sebelumnya 50,4. "Angka tersebut juga lebih rendah dari prediksi 50,9," tandas dia.
Padahal, lanjut dia, ekonomi China diharapkan bisa mendongkrak ekonomi global. "Jadi, manufaktur China tidak sebagus perkiraan sebelumnya," tuturnya.
Tak pelak, kondisi itu kontras dengan pernyataan Gubernur The Fed bahwa bank sentral bisa mereduksi pembelian obligasi dalam keputusan rapat The Fed berikutnya sehingga terpicu penguatan dolar AS. "Sebab, pada saat bersaaman terjadi peralihan risiko ke dolar AS," ucapnya.
Namun demikian, pada akhirnya dolar AS kembali melemah tapi belum mengantarkan rupiah ke zona positif. Pelemahan dolar AS dipicu oleh aksi profit taking seiring kejatuhan indeks Nikkei yang tajam akibat adanya lonjakan yield obligasi Jepang untuk tenor 10 tahun ke 1% dari 0,825%. "1% merupakan level tertinggi dalam setahun terakhir sehingga terjadi panic selling pada indeks Nikkei," papar dia.
Sebab, dana pensiun Jepang sebagian besar dimasukkan ke dalam aset obligasi sehingga ekuiti dana-data tersebut tergerus. "Realisasi untung di Nikkei dan dolar AS untuk mengganti kerugian di Obligasi," ungkap Christian.
Alhasil, rupiah melemah meski dolar AS juga melemah terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS melemah ke 83,93 dari sebelumnya 84,28. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke US$1,2883 dari sebelumnya US$1,2856 per euro," imbuh Christian.
Dari bursa saham, Satrio Utomo, kepala riset PT Universal Broker Indonesia mengatakan, koreksi IHSG akhirnya datang juga. “Saya termasuk beruntung karena posisi saya sudah tinggal sedikit. Tadi pagi saya hanya tinggal exit saham PT Astra Otoparts (AUTO) yang ternyata kemarin sempat dapet di harga Rp3.425,” kata dia.
Pada perdagangan Kamis (23/5/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup melemah 86,6 poin (1,66%) ke posisi 5.121,403. Intraday terendah 5.089,929 dan tertinggi 5.209,139.
Pertanyaannya sekarang, kata dia, apakah koreksi ini sungguhan atau palsu seperti biasanya. “Permasalahan kali ini beda dari yang kemarin-kemarin di mana The Fed akan mengurangi paket stimulusnya. Ibarat air minum, suplai air yang biasanya melimpah, ini mau diperkecil, di-’pithet’ kalau orang Jawa Timur bilangnya,” ujarnya.
Biasanya, kata Satrio, orang tidak punya kekhawatiran tentang kehausan. “Sekarang, bisa saja sebagian orang sudah ‘mengkhawatirkan tentang kemungkinan kehausan itu’,” papar dia.
Dia menegaskan, jangan tanya berita negatif yang lain. “Jelaslah banyak, terutama harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang akan naik per akhir bulan. Berita jelek sudah menumpuk. Tapi selama ini, IHSG tidak bisa turun banyak karena besarnya limpahan likuiditas,” papar dia.
IHSG sore ini, lanjut dia, jauh dari support pertama 5.162-5.164. Begitu juga dengan net selling investor asing yang sudah lebih besar dari net buy asing dalam dua hari terakhir. “Kalau Anda sore ini melihat, pasti banyak sekali saham yang tutup di bawah harga terendah kemarin yang merupakan sinyal bearish. Apakah besok market bakalan rebound seperti yang sudah-sudah?” tanya Satrio.
Satrio sendiri berharap IHSG tidak lagi menguat besok. Dia menginginkan, IHSG masuk pada kisaran 4.721– 4.904 dulu sebelum kembali bergerak naik. “Tapi itu pingin saya, yang sudah beberapa bulan terakhir enggak kesampaian. Kita lihat besok, yang jelas, saya tidak berminat untuk kasih rekomen beli untuk hari ini,” imbuhnya.

Inilah Rekomendasi Saham Pilihan Jumat (24/5/2013)

Headline

Pada perdagangan Jumat (14/5/2013) IHSG berpotensi terkoreksi untuk menguji level support di 5.050.

Pada penutupan perdagangan Kamis (23/5/2013) secara teknikal IHSG menghasilkan signal bearish pada indikator stocastic. IHSG akan bergerak di kisaran 5.050-5.200. Untuk saham pilihan seperti BBRI, APLN, TAXI, LPKR, PGAS dan CTRS. Demikian mengutip hasil riset ETrading Securities, kemarin.

Pada perdagangan kemarin, IHSG melemah 86,60 poin atau 1,66% ke 5.121.40. Untuk jumlah transaksi 14,5 juta lot saham atau setara dengan Rp9.4 triliun.

Sementara pengamat pasar modal, Jeremiah Rio Rizaldi merekomendasikan saham ASII, GGRM dan TLKM. Untuk saham ASII, berkonsolidasi setelah turun kebawah support psikologis MA200-nya. Diperkirakan kosolidasi saat ini akan menguji MA200 sebagai resisten baru di level 7400 – 7500.

Ini merupakan technical rebound semata dan dapat dimanfaatkan untuk melakukan sell on strength. Hati – hati jika ASII gagal bertahan di atas support saat ini di 7000, saham ini berpeluang membentuk pola double top dengan target penurunan awal di 6200 dan minor target 6450. Saham ASII disarankan Sell On Strength, dengan stoploss level 7000.

Untuk saham GGRM setelah berhasil mencapai target awal kenaikannya di 56500 berpeluang melanjutkan kenaikann. Secara bersamaan GGRM juga menguji down trend resist line-nya di kisaran 57800.

Kemampuan GGRM kembali ke atas 57800 akan membuka peluang kenaikan menuju resisten dari pola Double Bottom di 60450. Nantinya jika level ini dapat ditembus target kenaikan selanjutnya ada di level 69500 dengan minor target 64000. MACD yang menurun menunjukkan saham ini berpeluang berkonsolidasi sesaat ke rangkaian support moving average di 5100 yang menjadi area menarik untuk buy on weakness, dengan stoploss level 49800.

Sementara saham TLKM telah mencapai target kenaikan dari pembentukan pola cup & handle besar yang terbentuk sejak tahun 2010 di 12500. Kemampuan TLKM bertahan di atas level 12000 akan membuka peluang kenaikan hingga 13300. Jika TLKM mampu mempertahankan momentum kenaikan maka target kenaikan selanjutnya berada di level 15500. Saham TLKM disarnakan speculative buy jika bertahan di atas 12000 dengan stoploss level 11600.

Tekanan Jual Berkurang, IHSG Masih Loyo


Headline

Meski tekanan jual diprediksi berkurang pada perdagangan Jumat (24/5/2013), laju IHSG masih dibayangi koreksi lanjutan. Ini punya support di 5.079 dan resistance 5.150.
Pada perdagangan Kamis (23/5/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup melemah 86,6 poin (1,66%) ke posisi 5.121,403. Intraday terendah 5.089,929 dan tertinggi 5.209,139. Volume perdagangan turun dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan net sell dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan net buy.
Purwoko Sartono, Research Analyst dari PT Panin Sekuritas mengatakan, IHSG bergerak melemah kemarin. “Pelemahan didorong oleh tekanan jual dari bursa regional merespons data manufaktur China yang melemah serta menguatnya Yen,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (23/5/2013).
Nikkei dan Hang Seng tercatat membukukan penurunan cukup dalam. “Selain berita dari Asia, pasar juga bereaksi negatif atas pernyataan The Fed yang akan mengurangi program stimulus mereka terutama jika pasar tenaga kerja terus membaik,” ujarnya.
Di atas semua itu, Purwoko memperkirakan tekanan jual pada IHSG akan mulai berkurang. Namun demikian, indeks masih dibayangi oleh potensi koreksi lanjutan.
Investor dalam negeri, kata dia, juga masih wait and see terkait dampak kebijakan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang akan diputuskan awal bulan Juni nanti. “IHSG berpeluang melaju dalam kisaran support 5.079 dan resistance 5.150,” imbuhnya.

Selasa, 21 Mei 2013

Respons BoJ dan The Fed, Rupiah Cari Arah

Headline

Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Rabu (22/5/2013) diprediksi konsolidasi. Pasar menanti kepastian sikap moneter dari BoJ dan The Fed.

Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, potensi konsolidasinya rupiah Rabu ini karena pasar punya banyak agenda penting terutama testimoni Gubernur The Fed Ben Bernanke dan rapat kebijakan moneter Bank of Japan (BoJ).

Menurut Christian, ada ketidakpastian arah moneter BoJ setelah Menteri Keuangan Jepang menyatakan, pelemahan yen yang terlalu tajam bisa berdampak negatif untuk masyarakat Jepang. Padahal, sebelumnya, pasar sudah menebak agresifnya sikap moneter BoJ. "Karena itu, rupiah berpeluang konsolidasi terlebih dahulu karena pasar bersikap wait and see testimone Bernanke dan BoJ. Rupiah akan berada dalam kisaran 9.785 hingga 9.750 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM.

Jika melihat penyataan Menkeu Jepang, lebih jauh Christan menjelaskan, kebijakan moneter Jepang tak bertambah agresif untuk sementara. "Tapi, tren pelemahan yen masih akan berlanjut terhadap dolar AS karena pernyataan itu bisa saja politis setelah kritik dari G7 atas terlalu tajamnya pelemahan yen," ujarnya.

Sementara itu, lanjut dia, testimoni Bernanke memberikan ancaman bagi rupiah. Sebab, testimoni itu bisa saja memperkuat rally dolar AS akhir-akhir ini. "Apalagi, rally dolar AS juga mengindikasikan bahwa para pelaku pasar sedang mengantisipasi adanya perubahan kebijakan The Fed dari pro moneter longgar menjadi ketat," timpal dia.

Karena itu, dia menambahkan, komentar Bernanke bisa meneruskan atau justru mengakhiri rally dolar AS. "Jadi, sebenarnya masih banyak ketidakpastian," ucapnya.

Menurut Christian, Meski Bernanke belum akan langsung menyatakan pengetatan moneter, tapi akan jadi langkah yang semakin dekat ke arah pengetatan tersebut. "Yang perlu diwaspadai, jika nanti Bernanke memberikan sinyal bahwa program pembelian obligasi itu akan divariasikan atau dengan kata lain direduksi atau secara langsung Bernanke menyatakan optimistis atas outlook ekonomi AS," papar dia.

Jika itu yang terjadi, dolar AS bisa semakin meroket terhadap rupiah. "Sebaliknya, jika Bernanke lebih banyak bicara mengenai keterbatasan ekonomi AS akibat hambatan fiskal, dolar AS bisa jatuh akibat profit taking dan investor sadar pencabutan stimulus belum akan terjadi dalam waktu dekat," ungkap dia.

Selain itu, pasar juga akan mendapatkan data sentimen konsumen dari Australia yang angkanya diprediksi memburuk dari -5,1% menjadi -5,5% sehingga menjadi sentimen negatif bagi mata uang non-dolar AS.

Tapi, di sisi lain, neraca perdagangan Jepang sudah diprediksi menunjukkan kenaikan ekspor . "Hanya saja, masih mencatatkan defisit di level -0,61 triliun yen untuk April 2013 atau sedikit menyusut dari bulan sebelumnya -0,92 triliun yen. Membaiknya defisit Jepang seiring pelemahan tajam yen," imbuhnya.

Asal tahu saja, kurs rupiah terhadap dolar AS  di pasar spot valas antar bank Jakarta, Selasa (21/5/2013) ditutup melemah 5 poin (0,05%) ke posisi 9.760/9.765.

Pasar Sadar Stimulus The Fed Segera Berakhir


Headline

IHSG dan rupiah kompak melemah. Pasar menyadari stimulus Bank Sentral AS bakal segera berakhir.
Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, pelemahan rupiah Selasa ini lebih dipicu oleh bertambahnya penguatan dolar AS jelang testimoni Gubernur The Fed Ben Bernanke di hadapan Kongres AS besok malam. Menurut Christian, pasar berekspektasi Bernanke akan memberikan petunjuk lebih lanjut atas laju pemulihan ekonomi AS.
Kondisi itu, kata dia, cukup positif untuk dolar AS. "Karena itu, sepanjang perdagangan rupiah mencapai level terlemahnya 9.765 setelah mencapai level terkuatnya 9.755 dari posisi pembukaan di level terkuatnya itu terhadap dolar AS,.
Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Selasa (21/5/2013) ditutup melemah 5 poin (0,05%) ke posisi 9.760/9.765 dari posisi kemarin 9.755/9.760.
Selain itu, lanjut dia, banyak investor yang menyadari bahwa kebijakan stimulus The Fed akan mendekati akhir. "Ini semakin menambah daya tarik aset-aset AS termasuk dolar AS,
Sementara itu, dari dalam negeri, BI yang mengeluarkan referensi akurat yang disebut Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang diberlakukan Selasa ini, dinilainya tidak berpengaruh banyak pada pergerakan rupiah. "Jisdor hanya sekedar referensi untuk memberikan informasi harga sehingga data transaksi yang sebenarnya bisa lebih kredibel,
Menurut dia, Jisdor menjadi alat bantu untuk memonitor aktivitas sehingga jadi acuan pergerakan rupiah yang lebih akurat. Jika terjadi shock di pasar, pasar tidak dibingungkan lagi oleh referensi kurs di luar negeri atau lainnya. "Ini juga bisa meredam kepanikan pasar akibat ulah spekulan,
Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS menguat 0,24% ke posisi 84,04 dari sebelumnya 83,94. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan menguat ke US$1,2873 dari sebelumnya US$1,2882 per euro,
Dari bursa saham, Satrio Utomo, kepala riset PT Universal Broker Indonesia mengatakan, koreksi Dow Jones Industrial Average (DJIA) semalam sebenarnya belum memberikan sinyal negatif karena masih tutup di atas support. “Akan tetapi, pelaku pasar mengambil kesempatan dari penurunan itu untuk melakukan aksi profit taking, terutama setelah tadi pagi IHSG sempat menyentuh resisten 5.250,
Pada perdagangan Selasa (21/5/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) dituutp melemah 26,22 poin (0,50%) ke posisi 5.188,759. Intraday terendah 5.161,994 dan tertinggi 5.251,296.
Lebih jauh dia menyampaikan, batas bawah untuk target IHSG di tahun ini sudah ditembus. Terus, resistance di level 5.200, ternyata memang resistance kuat. Hingga tutup IHSG tidak bisa bertahan di atas resistance seperti kemarin.
IHSG memang masih bisa tutup di atas support pertama 5.164 sehingga sinyal negatif, belum tentu akan muncul. Tapi tetap saja, resistance 5.200 adalah resistance yang kuat. “Adanya resistance kuat ini membuat positioning saham menjadi sangat tinggi risikonya, terutama dengan DJIA juga berada di resistance kuat dari trend channel,
Namun demikian, Satrio menambahkan, selama tiga bulan terakhir, saat ada sinyal negatif, besoknya lantas rebound.
“So, pagi tadi saya memang exit sebagian besar dari posisi saya. Tapi, sore hari ini saya masih berusaha untuk mengambil posisi contrarian: beli di bawah harga support. Langkah ini saya lakukan karena dalam 3-4 bulan terakhir, membeli ketika suport ditembus, terlihat lebih menguntungkan, terutama jika dilakukan pada saham-saham yang sektornya sedang digemari oleh pasar (konsumer atau batubara),

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons